Memasuki usia 40-an atau 50-an, banyak wanita mulai merasakan hal-hal baru pada tubuhnya. Bukan cuma rasa panas mendadak atau siklus haid yang mulai berantakan, ada satu keluhan yang sering datang diam-diam tapi lumayan bikin repot: sendi yang tiba-tiba terasa kaku, nyeri, dan gampang linu, padahal aktivitasnya sama saja seperti biasa.
Estrogen dan Sendi, Apa Hubungannya?
Salah satu “tersangka” utama di balik keluhan ini adalah penurunan hormon estrogen. Estrogen ternyata punya peran membantu meredam peradangan di dalam tubuh. Nah, begitu kadarnya turun drastis menjelang dan sesudah menopause, peradangan jadi lebih mudah “naik”, dan ini yang bikin sendi terasa lebih tidak nyaman dari biasanya.
Tapi jangan buru-buru menyimpulkan bahwa semua nyeri sendi di usia ini pasti karena menopause. Osteoartritis, salah satu penyebab nyeri sendi jangka panjang yang paling umum, memang lebih sering dialami wanita dibanding pria, tapi bukan berarti selalu disebabkan langsung oleh menopause. Kebetulan saja keduanya sama-sama lebih sering muncul di usia 50 tahun ke atas, jadi kelihatannya berhubungan padahal mekanismenya bisa beda.
Ada data menarik dari Jurnal Ners Universitas Pahlawan yang menganalisis catatan medis pasien rehabilitasi RS Universitas Airlangga (2019-2025): dari pasien di atas 45 tahun yang mengeluh nyeri lutut, mayoritasnya perempuan. Penelitian ini juga mencatat kadar estrogen bisa turun hingga sekitar 90% di beberapa tahun pertama pascamenopause. Angka ini berasal dari data satu rumah sakit saja, jadi belum tentu persis sama di tempat lain, tapi cukup menggambarkan pola yang sering ditemui.
Kapan Perlu Waspada?
Sebagian besar rasa pegal dan kaku menjelang menopause tergolong keluhan ringan yang bisa membaik sendiri dengan perawatan yang tepat. Tapi kalau nyerinya disertai bengkak yang cukup jelas, kemerahan, kaku yang tidak kunjung reda dalam beberapa minggu, atau gerakan yang makin terbatas, sebaiknya langsung diperiksakan ke dokter. Bisa jadi itu osteoartritis atau kondisi sendi lain yang butuh penanganan tersendiri, bukan sekadar “efek menopause” biasa.
Cara Menjaga Sendi Tetap Nyaman
Beberapa kebiasaan sederhana ini bisa membantu:
- Tetap aktif bergerak. Sebuah penelitian di Universitas Jenderal Soedirman terhadap 30 wanita menopause mencatat skala nyeri turun dari rata-rata 6,7 jadi 3,8 setelah rutin senam rematik. Memang skalanya kecil (cuma 30 orang), tapi cukup menunjukkan bahwa gerak ringan layak dicoba.
- Jaga berat badan ideal, biar beban di sendi penopang seperti lutut tidak makin berat.
- Cukupi kalsium dan vitamin D untuk mendukung kepadatan tulang. Kemenkes RI sendiri menyebutkan dua kebiasaan ini (jaga berat badan dan penuhi kalsium/vitamin D) sebagai bagian dari cara merawat tulang saat menopause.
- Kelola stres dan jaga kualitas tidur. Ini memang bukan solusi khusus untuk sendi, tapi tetap kebiasaan baik yang mendukung tubuh secara keseluruhan selama masa transisi ini.
Jamu Herbal Sebagai Pendamping
Selain menjaga kebiasaan di atas, sebagian wanita juga memilih mengonsumsi jamu pegal linu sebagai pendamping untuk membantu meredakan rasa tidak nyaman di sendi. Salah satu yang bisa dipertimbangkan adalah jamu pegal linu untuk masa menopause seperti Zuo Hao Shi, yang berbahan jahe, serai wangi, kayu manis, cengkeh, dan akar peony. Bahan-bahan ini secara turun-temurun dikenal membantu meredakan pegal dan nyeri sendi ringan.
Produk ini sudah terdaftar BPOM dengan nomor TR 233073191 dan bersertifikat halal MUI. Yang perlu diingat, jamu ini sifatnya pendamping, bukan pengganti obat resep dokter, dan tidak untuk kondisi sendi yang lebih serius seperti osteoartritis lanjut. Kalau keluhannya sudah cukup mengganggu atau tidak kunjung membaik, tetap yang paling tepat adalah periksa ke dokter.
Intinya
Nyeri dan kaku sendi menjelang menopause itu keluhan yang umum banget dialami banyak wanita. Penurunan estrogen memang jadi salah satu faktor, tapi bukan berarti setiap nyeri sendi otomatis “gara-gara menopause”, karena osteoartritis juga sering muncul terpisah di usia yang sama. Dengan tetap aktif bergerak, jaga asupan nutrisi, dan peka sama tanda-tanda yang perlu diwaspadai, sendi bisa lebih nyaman dilalui selama masa transisi ini.
