Setiap tanggal 6 April, Indonesia memperingati Hari Nelayan Nasional. Namun di balik perayaan itu, data lapangan justru menyajikan gambaran yang jauh dari membanggakan. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat bahwa sekitar 30,2 juta warga pesisir Indonesia saat ini berada dalam ancaman nyata akibat dampak perubahan iklim yang terus mengintensif. Dan jika tidak ada intervensi kebijakan yang serius, Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC) memproyeksikan kerugian ekonomi sektor perikanan di zona ekonomi eksklusif Indonesia bisa merosot hingga 26 persen pada tahun 2050.
Angka-angka itu bukan sekadar statistik dingin di atas kertas. Ia adalah cerminan dari kehidupan nyata jutaan keluarga yang menggantungkan hidup dari laut—keluarga-keluarga yang kini semakin terjepit oleh cuaca yang tak lagi bisa diprediksi, tangkapan yang terus menyusut, dan biaya operasional yang tidak bisa ditawar. Universitas Pertamina (UPER) hadir dengan penelitian lintas disiplin yang menelanjangi realitas tersebut secara akademis, sekaligus menyuarakan kebutuhan mendesak akan solusi nyata.
Teluk Aru: Pusat Perikanan yang Kini Penuh Ketidakpastian
Tim peneliti Universitas Pertamina memilih Teluk Aru di Kalimantan Selatan sebagai lokasi kajian—dan pilihan itu bukan tanpa alasan. Wilayah ini merupakan salah satu pusat perikanan tangkap terbesar di Kalimantan Selatan dengan potensi produksi mencapai 98.000 ton per tahun. Namun justru di wilayah yang secara teknis memiliki potensi luar biasa itulah, dampak perubahan iklim paling terasa menghantam kehidupan para nelayannya.
Penelitian ini diketuai oleh Ita Musfirowati Hanika dari Program Studi Komunikasi UPER, dengan kolaborasi lintas disiplin yang melibatkan pakar dari Teknik Logistik, Hubungan Internasional, serta Manajemen. Pendekatan multidisiplin ini penting karena permasalahan yang dihadapi nelayan bukan semata soal cuaca dan ekologi—ia menyentuh aspek komunikasi risiko, ketahanan logistik, diplomasi kebijakan, hingga manajemen keuangan rumah tangga.
Musim Barat yang Berubah Wajah: Pengetahuan Lokal yang Tak Lagi Bisa Diandalkan
Salah satu temuan paling mengkhawatirkan dari riset ini adalah pergeseran pola musim yang kian tidak menentu. Ita Musfirowati Hanika menjelaskan bahwa Musim Barat yang secara historis berlangsung selama tiga bulan kini bisa molor hingga lima bulan akibat perputaran angin yang tak lagi mengikuti pola yang biasa dikenal nelayan.
Dampak dari pergeseran ini jauh lebih dalam dari sekadar perubahan kalender melaut. Selama berabad-abad, nelayan tradisional mengandalkan pengetahuan lokal yang diwariskan turun-temurun untuk menentukan kapan harus melaut, ke mana harus berlayar, dan jenis ikan apa yang sedang berlimpah di lokasi tertentu. Pengetahuan itu kini kehilangan relevansinya seiring anomali iklim yang mengacak-acak pola migrasi ikan dan kondisi perairan.
“Hasil kajian kami menunjukkan bahwa perubahan iklim di Teluk Aru telah menjadi realitas yang memaksa nelayan berhenti melaut akibat cuaca ekstrem yang tak menentu dan hilangnya kepastian lokasi tangkapan akibat anomali migrasi ikan,” papar Ita.
Satu Malam, Satu Ikan, Rp35.000: Wajah Kemiskinan di Balik Laut
Di antara berbagai data dan analisis ilmiah yang disajikan riset ini, ada sebuah kesaksian yang paling kuat berbicara: penuturan Lahudina (74), nelayan senior di Teluk Aru. Ia mengisahkan bagaimana suatu malam ia memancing sepanjang malam dan hanya berhasil mendapatkan seekor ikan—yang ketika dijual hanya menghasilkan Rp35.000. Sementara itu, biaya operasional sekali melaut saja sudah mencapai Rp100.000.
“Tahun ini cuaca tidak menentu, penghasilan nelayan sedang ‘sakit’. Pernah saya memancing semalaman cuma dapat satu ekor ikan, dijual cuma Rp35.000, padahal ongkos sekali jalan saja sudah Rp100.000. Kami tidak dapat untung, malah tombok,” ungkap Lahudina getir.
Kondisi yang tak jauh berbeda dialami Pak Kaswin, nelayan yang pada akhirnya memilih untuk meninggalkan profesi nenek moyangnya dan beralih menjadi petani cengkeh karena laut tak lagi memberikan kepastian ekonomi yang layak untuk menghidupi keluarga. Dua kisah ini adalah potret mikroskopis dari persoalan yang sesungguhnya sedang dialami jutaan nelayan di seluruh pesisir Indonesia.
Temuan Ilmiah: Kenaikan Permukaan Laut dan Penurunan Tangkapan
Secara ilmiah, riset UPER yang dipublikasikan melalui IOP Conference Series: Earth and Environmental Science serta Dinasti International Journal of Education Management and Social Science (DIJEMSS) mencatat sejumlah indikator alarming. Permukaan laut di kawasan pesisir mengalami kenaikan sebesar 3,5 mm per tahun—laju yang tampak kecil namun ketika diakumulasikan selama beberapa dekade ke depan akan mengancam keberadaan fisik pemukiman pesisir. Sementara itu, hasil tangkapan nelayan telah turun hingga 15 persen—penurunan yang langsung menggerus pendapatan dan ketahanan pangan keluarga nelayan.
Riset ini juga mengungkap jeratan ekonomi yang menjerat nelayan: biaya operasional melaut yang mencapai Rp300.000 per trip kini seringkali melampaui pendapatan yang diperoleh. Ini adalah situasi defisit operasional kronis yang secara perlahan namun pasti menggerogoti aset, tabungan, dan pada akhirnya—seperti yang dialami Pak Kaswin—memaksa nelayan meninggalkan profesinya sama sekali.
Rekomendasi dan Komitmen UPER untuk Solusi Nyata
Tim peneliti UPER tidak berhenti pada tataran diagnosa. Dengan menggunakan pendekatan Health Belief Model (HBM) dan Sustainable Livelihood Framework (SLF), riset ini menyimpulkan bahwa para nelayan sejatinya memiliki kesadaran dan niat yang kuat untuk beradaptasi—tetapi niat itu terbentur oleh keterbatasan akses terhadap informasi, teknologi, dan modal.
Rekomendasi yang diajukan mencakup kemudahan akses pembiayaan untuk modifikasi perahu agar lebih aman menghadapi cuaca ekstrem, penyediaan teknologi tepat guna yang langsung berdampak pada produktivitas nelayan kecil, serta penguatan sistem informasi cuaca yang presisi dan mudah diakses oleh nelayan di lapangan.
Rektor UPER, Prof. Dr. Ir. Wawan Gunawan A. Kadir, M.S., IPU, menegaskan bahwa penelitian semacam ini adalah wujud nyata komitmen institusional. “Universitas Pertamina berkomitmen menghadirkan solusi nyata atas tantangan keberlanjutan masyarakat pesisir. Penelitian lintas disiplin ini adalah langkah konkret kami dalam menjembatani temuan akademik dengan kebutuhan mendesak nelayan di akar rumput demi menjaga kedaulatan maritim Indonesia,” tegasnya.
Untuk melihat daftar program studi dan informasi pendaftaran terbaru, Anda dapat langsung mengakses laman resmi admisi Universitas Pertamina melalui https://pmb.universitaspertamina.ac.id/admisi?src=101 dan mulai merencanakan langkah akademik terbaik Anda.
